Home

Berita

Artikel

Buku

Program

Pelatihan

Conflict Resolution Education

Links

Database

Peace Directory

Siapa Kami

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Program

Manajemen Konflik

Dosen: Claudia Hale (Professor, School of Communication Studies, Ohio University). Instruktur: Ann Shoemake (mahasiswa Ph.D, Communication Studies, OU; Associate Director, CERIC-UI; Assistant Director Yayasan Nurani Dunia), Beatriz Torres (mahasiswa PhD, Communication Studies, OU), Drs. Setia Budhi (dosen, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin; Direktur CERIC-UnLam).

Tujuan lokakarya manajemen konflik adalah untuk memfasilitasi komunikasi terbuka dan partisipasi konstruktif dari pihak-pihak lokal untuk mencari pemecahan terhadap konflik yang melanda masyarakat mereka. Pelatihan manajemen konflik berorientasi diskusi serta memberikan ketrampilan untuk melihat sifat konflik dan mengenali kesamaan perhatian dari pihak yang terlibat konflik. Karenanya, lokakarya akan menekankan metode pemecahan masalah (problem solving). Lokakarya akan berlangsung dengan diawali pengembangan definisi masalah dengan mempertanyakan “Apakah konflik itu?” serta mengenali asumsi-asumsi kultural dalam konflik itu. Tahap kedua adalah  mendefinisikan masalah sesungguhnya yang mengakibatkan konflik. Berikutnya adalah analisis pelbagai level konflik, dan penggambaran dinamika kekuatan yang terlibat dalam konflik.

Yang terakhir adalah diskusi bagaimana menangani ketidakimbangan kekuasaan. Teknik-teknik manajemen konflik akan mencakup bagaimana menemukan jawaban untuk beberapa  pertanyaan berikut: “Apa yang menyebabkan konflik kelihatan sukar dikendalikan? Apa yang menjadi kesamaan dan ketidaksamaan? Informasi apa yang relevan untuk menganalisis masalah itu? Bagaimana kita membedakan antara kepentingan yang tersembunyi dengan posisi yang kita pilih?”  Pencarian pemecahan dan kesepakatann akan menekankan kerja sama sebagai tujuan awal. Hal ini akan dicapai dalam sesi lokakarya yang dipakai untuk brainstorming dan pengembangan alternatif pemecahan masalah, pengembangan kriteria atau standar-standar yang disepakati bersama untuk menilai alternatif-alternatif, serta melaksanakan alternatif ke manajemen konflik yang sesungguhnya di lapangan..

 

Dialog Demokratis

Dosen: Michael Malley (Assistant Professor, Political Science, OU), Imam Prasodjo, Ph.D (Sosiologi, FISIP, Direktur CERIC, UI), dan Elizabeth Collins (Associate Professor, Philosophy, dan Direktur SEASP, OU). Instruktur: Djayadi Hanan (MAIA, Southeast Asian Studies, OU, dan dosen, Universitas Paramadina, Jakarta), Nico Harjanto (mahasiswa Ph.D. Political Science,  dan peneliti CSIS), Ganda Upaya (MAIA, Southeast Asian Studies, OU, serta dosen UI), Rick Kraince (Ph.D, Higher Education, OU), Ihsan Ali-Fauzi (mahasiswa Ph.D., Contemporary History, OU, Direktur Voice Center Indonesia, Jakarta).

Fasilitasi komunikasi antarkelompok pada level lokal memberikan peluang kepada anggota masyarakat untuk mengemukakan pendapatnya dalam memecahkan sendiri masalah mereka. Kami akan menyelenggarakan pelatihan bagaimana menyelenggarakan forum terbuka di tingkat desa atau kecamatan, di mana anggota masyarakat memiliki peluang untuk menyampaikan perhatian serta pendapatnya dalam dengan bebas dan tanpa rasa takut. Untuk mendorong partisipasi anggota kelompok yang terpinggirkan, yang suara dan opininya jarang terdengar, diskusi akan diadakan di lingkungan udara terbuka di balai desa atau tempat terbuka lain, dan masyarakat umum akan diundang untuk hadir dan berpartisipasi. Tokoh-tokoh dari pemerintahan lokal, LSM, tokoh masyarakt, dan pihak-pihak yang berkepentingan akan diundang untuk berpartisipasi, untuk mendorong komunikasi dua arah serta menekankan tanggung jawab bersama antara rakyat dan pemimpinnya dalam pengembangan demokrasi. Jika mungkin, diskusi ini akan direkam untuk disebarkan lewat stasion televisi lokal untuk mendorong partisipasi untuk dialog selanjutnya. Dalam hal ini perlu disebut bahwa Direktur TVRI meraih gelar doktornya dari School of Telecommunication, Ohio University, yang juga sangat tertarik untuk mengembangkan acara televisi berdasarkan dialog demokratis di tingkat lokal tersebut.

Peran Media dalam Manajemen Konflik

Dosen: Robert Stewart (Professor, Journalism, OU), dan Drew McDaniel (Professor, Telecommunication, OU). Instruktur: Adrian Budiman (mahasiswa Ph.D, Mass Communication, OU), Putut Widjanarko (mahasiswa Ph.D., School of Telecommunication, OU, dan Direktur Penerbit Mizan, Bandung), Ariadne Budianto (mahasiswa MAIA, Southeast Asian Studies OU).

Sebuah lokakarya untuk jurnalis peliput masalah-masalah sensitif pasti menantang para jurnalis untuk memikirkan peran potensial mereka dalam konflik. Apakah  mereka akan memihak kepada salah satu pihak yang bertikai? Jika ya, maka karya mereka tidak memiliki legitimasi. Akibat yang terburuk adalah bahwa karya mereka dapat membakar situasi, dan karenanya para jurnalis adalah bagian dari persoalan. Seharusnya para jurnalis berusaha melaporkan dan menulis dengan cara sehingga pembaca, pendengar dan pemirsa mereka dapat mempercayai integritas isi pemberitaan itu. Untuk mencapai tujuan ini, lokakarya ini akan memberi kesempatan kepada para jurnalis untuk meneliti sumber-sumber pandangan mereka pada konflik tertentu, dan memahami bahwa pandangan-pandangan itu tidak lahir dari ruang hampa. Contoh-contoh peliputan konflik di wilayah lain akan memberi kesempatan kepada peserta lokakarya meneliti pemecahan masalah yang dikembangkan oleh para jurnalis di negara-negara lain, dan menarik pelajaran darinya.

Para jurnalis akan diberi studi-studi kasus. Teknik studi kasus telah menjadi teknik yang populer dalam pelatihan jurnalis baik profesional maupun dalam lingkungan akademik. Metode studi kasus menghadirkan isu-isu hipotesis yang bisa mendorong pengembangan analisis dan perenungan. Metode ini juga bebas lepas dari kendala-kendala yang diakibatkan oleh lingkungan kerja sehari-hari, sehingga memungkinkan konsep-konsep profesional bisa dievaluasi secara lebih efektif. Peserta akan bekerja dalam kelompok beranggotakan empat hingga enam orang. Setiap kelompok akan diberi serangkaian tugas berdasar kondisi-kondisi yang diungkap dalam studi kasus. Kesimpulan-kesimpulan yang dicapai oleh kelompok yang berbeda bisa memberikan perbandingan dari para peserta.

Beberapa studi kasus telah berhasil dikembangkan untuk digunakan dalam pelatihan media profesional untuk mengatasi situasi konflik. Salah satunya didesain untuk mengeksplorasi beberapa pihak yang oleh para jurnalis harus perhatikan. Misalnya para jurnalis diminta untuk mengembangkan strategi pemberitaan sebuah bank yang mereka ketahui berada dalam kesulitan. Masalahnya adalah pelaporan situasi ini pasti akan menimbulkan kepanikan sehingga orang ramai-ramai menarik uangnya, yang justru membuat bank tersebut bankrut. Bagaimana menyeimbangkan antara problem ini dengan hak publik untuk mendapatkan berita yang benar  harus ditentukan. Tidak ada satu jawaban yang benar, dan peserta harus memformulasikan pendekatan yang sesuai dengan masyarakat mereka. Contoh yang lain mengenai masalah mengatasi tekanan aparat pemerintah yang menginginkan pemberitaan tentang suatu hal yang secara jurnalistik tidak seimbang. Di sini masalahnya adalah bagaimana melaporkan berita dengan seimbang, tetapi hubungan dengan aparat pemerintah tetap terjaga. Dalam situasi konflik, jurnalis harus menentukan apakah identitas etnik dan agama penyerang adalah informasi yang relevan dalam meliput sebuah kejadian.

 

Pendidikan Toleransi

Dosen: Claudia Hale (professor, Interpersonal Relations, Ohio University), Rosario Romano (Assistant Professor, Education, OU). Instruktur: Brett Noel M.Ed (Master dalam bidang Pendidikan, sedang menempuh program master dari Southeast Asia Program dan Mahasiswa Ph.D, Teacher Education, OU), Rudi Sukandar (Mahasiswa Ph.D., Communication Studies, OU)

Lokakarya Pendidikan Toleransi diperuntukkan bagi dosen universitas yang mengajar calon guru sekolah menengah, dan mahasiwa yang akan menjadi guru. Lokakarya ini akan memperkenalkan model pendidikan toleransi/multikultural yang dipakai di Amerika Serikat dan di tempat-tempat lain. Para pelatih akan berpartisipasi dalam mengadaptasi bahan-bahan ini untuk kurikulum yang bisa diterapkan di Indonesia. Pada lokakarya nanti, para pserta akan belajar dan mempraktikkan pendekatan pengajaran baru, termasuk diantranya kelompok belajar kooperatif (cooperative learning groups, CLG), yang telah berhasil sebagai metoda instruksional untuk mengembangkan pemahaman multikultural dan kerja sama antara kemompok siswa yang beragam, mengurangi stereotype, dan meningkatkan ketrampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Peserta akan berkerja dalam kelompok kecil untuk mengembangkan bahan-bahan pendidikan toleransi dari media massa. Aspek lain dari lokakarya akan menunjukkan peserta bagaimana memanfaatkan sumber-sumber lokal dan bagaimana menilai bahan-bahan yang akan digunakan dalam kelas sekolah menengah. Lokakarya akan direkam dalam video yang akan diedit agar dapat digunakan oleh peserta untuk menyelenggarakan lokakarya sejenis di tingkat lokal. Lokakarya evaluasi juga akan diselenggarakan untuk meningkatkan bahan-bahan yang telah ada, serta merencanakan pelatihan di masa depan di tempat lain.

 

Pengembangan Media

 Dosen: David Thomas (Professor, Film, OU). Sutradara: Marissa Haque (Mahasiswa MA, Film, OU, Produser film “Saya Anak Indonesia,” Jakarta).

Tujuh sampai sepuluh spot televisi berdurasi satu menit akan diproduksi. Iklan layanan masyarakat akan mengadopsi kampanye toleransi Singapura, yang memiliki lagu tema dengan refrain, “We are one people, one nation, one Singapore.” Contoh gagasan yang bisa dikembangkan dalam pendidikan toleransi adalah salah satu lagu nasional, “Satu nusa, satu bangsa, satu bahaa kita. Tanah air pasti jaya selama-lamanya.” Anak-anak Indonesia dari etnis dan agama yang berbeda akan bergabung dalam paduan suara yang makin lama makin banyak jumlahnya. Spot yang lain akan mengambil tema “Kemakmuran dan masa depan milik kita, bersama,” yang menampilkan mahasiswa memasuki kelas di universitas-universitas di Indonesia. Spot yang lain menampilkan sesepuh-sesepuh desa (dengan latar belakang rumah khas) dengan tema “Bahu membahu bersama-sama untuk keamanan dan kesejahteraan.” Selain itu, spot lain akan menampilkan orang-oraang yang sedang beribadah di masjid dan gereja, dengan tema “Islam dan Kristen bermakna damai dan persaudaraan.”

 

Evaluasi

Tujuan dari kegiatan ini adalah:

·              Melatih mediator, arbitrator dan fasilitator untuk dialog demokratis dan focus groups.

·              Melatih peserta menganalisis aneka sebab dan faktor penyumbang terjadinya konflik lokal, serta mengenali perhatian bersama pihak-pihak yang terlibat konflik.

·              Memulai proses dialog dan diskusi yang terbuka antara pejabat pemerintah, militer dan polisi, tokoh masyarakat, serta pelaku bisnis di tingkat lokal.

·              Meningkatkan kualitas reportase media dalam konflik dengan penyajian informasi yang akurat serta seimbang dari pihak-pihak yang bertikai.

·              Mendorong diperkenalkannya pendidikan toleransi pada kurikulum sekolah dasar.

·              Mempromosikan gagasan toleransi dan kebanggaan warga (civic pride) di Indonesia sebagai bangsa yang  beragam etnis dan agama tetapi hidup dalam harmoni dan penuh semangat kebersamaan.

Para peserta lokakarya TOT akan diminta untuk memberikan laporan tentang lokakarya yang mereka lakukan di universitas tempat mereka mengajar. Dua evaluator, Ann Tickmayer, professor sosiologi OU, serta Iwan Gardono Ph.D, yang meraih gelar doktornya dari Harvard University, serta professor ilmu politik dari UI, akan melakukan lokakarya evaluasi dengan peserta TOT di Jakarta. Peserta TOT akan diminta menggambarkan kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah yang ditemui dalam menyelenggarakan lokakarya di tingkat lokal. Evaluator akan menulis laporan menunjukkan keberhasilan-keberhasilan, menjabarkan masalah-msalah, dan membuat usulan-usulan untuk meningkatkan lokakarya TOT berikutnya. Laporan ini akan menjadi dasar manual pelatihan yang akan disiapkan oleh CERIC.

Evaluator tidak akan terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek ini. Keduanya memiliki pengalaman luas sebagai evaluator program serta proposal riset.

1