Southeast Asian Studies Program, Ohio University,
bekerja sama dengan Center for Research on Intergroup Relations and Conflict
resolution (CERIC), Universitas Indonesia, akan mengadakan beberapa
lokakarya Pelatihan untuk Pelatih (Training for Trainers, TOT) bagi
akademisi dan praktisi yang berasal dari pelbagai daerah di Indonesia.
Lokakarya ini akan menekankan pada manajemen konflik di tongkat lokal,
dialog demokratis, peran media dalam pemberitaan konflik, dan pendidikan
toleransi. Media instruksional (dalam Bahasa Indonesia) akan dibuat, dan
serangkaian iklan layanan masyarakat pendidikan toleransi juga akan
diproduksi.
Pelatih-pelatih (trainers) dari Ohio University bersama-sama dengan para
peserta TOT akan mengembangkan lokakarya regional yang akan diadakan di
daerah-daerah luar Jawa yang sedang mengalami konflik. Peserta lokakarya TOT
ini terdiri dari dosen-dosen universitas daerah, wartawan dan professional
media, serta organisasi yang bergerak di bidang pengembangan media.
Sedangkan lokakarya regional akan diikuti oleh pemerintah daerah, LSM lokal,
organisasi masyarakat lokal, dan pelaku ekonomi lokal. Website ini mewadahi
komunikasi dan informasi program ini, baik selama dan sesudah program
lokakarya TOT berlangsung.
Artikel:
Komunikasi dan Komunitas di Indonesia: Penghancuran
dan Penumbuhan Kembali Modal Sosial di Maluku
Oleh Ann Shoemake *
“Pihak gereja mengatakan
bahwa mereka memiliki bukti bahwa empat ribu orang Kristen dipaksa pindah
agama di enam pulau. Sebaliknya, Human Rights Watch menyatakan bahwa
orang-orang Muslim telah dipaksa berpindah agama menjadi Kristen tatkala
pihak Kristen menyerang Tobelo dan Galela di Maluku Utara pada Desember
1999” (International Crisis Group, 2002, Februari, hlm.10).
Konsep pemaksaan pindah agama tidak dikenal di dunia Barat sekular. Tetapi
di tempat di mana afiliasi agama disejajarkan dengan identitas kelompok,
pondasi dasar komunitas bisa saja tergantung pada identifikasi relijius,
sehingga pemaksaan pindah agama bisa dilihat sebagai bentuk ekstrem dari
‘pembentukan komunitas.’ Hal semacam itulah yang menimpa banyak pulau di
bagian timur Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini.
Sejak Januari 1999, masyarakat di Provinsi Maluku Utara dan Maluku
tercabik-cabik, dan sifat identitas mereka dengan sendirinya telah berubah
secara radikal. Sejak Januari 1999, konflik lokal yang dimulai dari kota
Ambon, Maluku, telah berkembang ke seluruh kawasan itu, dan bahkan berubah
menjadi semacam perang antara Kristen dengan Islam (van Klinken, 1999;
Human Rights Watch, 1999, March).
Anggota masyarakat yang telah lama tinggal secara damai mendapati rumah dan
rumah ibadah mereka terbakar rata dengan tanah. Ratusan ribu orang terpaksa
mengungsi dari desa-desa mereka dan tinggal di kam-kam pengungsian yang tak
layak huni, tempat mereka terpaksa hidup dengan udara terbuka, dan
berhadapan dengan penyakit, dan malnutrisi (Anwar, 2000, April 27). Untuk
kebutuhan dasar, para Internally Displaced Persons (IDP)[2]
sering tinggal dalam keadaan serba kekurangan: sanitasi, air minum, dan
listrik. Mereka bergantung kepada kemurahhatian penduduk di sekitar kam,
kemampuan LSM dan organisasi agama memahami kebutuhan mereka dan mengulurkan
bantuan, dan sering pada bantuan pemerintah lokal yang tidak teratur (United
States Committee for Refugees, t.t.).
Hampir tiga tahun berlalu sejak meletusnya konflik
etnis antara Suku Madura dan Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Puing-puing
bekas konflik masih ada di sana sini dan menyisakan berbagai masalah yang
masih belum terpecahkan sampai sekarang, mulai dari masalah pengungsi yang
masih harus bertahan di tempat pengungsiannya di Pulau Madura sampai pada
penerimaan kembali suku Madura di beberapa daerah utama konflik seperti
Sampit, Palangkara Raya, Pangkalan Bun dan Kuala Kapuas.
Beberapa minggu lalu, dalam program tengah malamnya,
Metro TV melalui acara Midnight Live-nya
menayangkan secara langsung kondisi para pengungsi konflik Sampit di
tempat penempatan mereka di Pulau Madura. Para mengungsi menjelaskan
kesulitan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi di tempat penampungan
tersebut. Banyak yang merasa sebagai orang Kalimantan (karena dilahirkan dan
besar di Kalimantan Tengah) berkeinginan untuk bisa pulang kembali ke tempat
asal mereka di Kalimantan Tengah. Kondisi sulit ini diperparah lagi dengan
tidak tersedianya cukup lapangan pekerjaan dan lembaga pendidikan bagi
anak-anak korban kerusuhan etnik di tempat pengungsian itu.
Di daerah bekas konflik sendiri keadaan sudah
mendingin, tetapi berbagai tindakan preventif masih dilakukan oleh
pemerintah, pihak keamanan beserta unsur-unsur masyarakat. Sedikit demi
sedikit, pendatang dari Suku Madura mulai bisa diterima di daerah Kabupaten
Kotawaringin Timur, utamanya kota Sampit, tetapi dengan melewati berbagai
prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah dan masyarakat seperti persyaratan
bahwa yang bersangkutan memiliki pernah berdomisili di Sampit dan tidak
terlibat dengan konflik yang terjadi di sana tiga tahun lalu. Tetapi
persyaratan terpenting dari diterimanya anggota masyarakat Suku Madura
adalah bersedianya mereka menghormati norma-norma dan nilai-nilai budaya
yang dijunjung di daerah itu. Kegagalan memenuhi persyaratan ini akan
menyebabkan sesorang bisa dikembalikan ke daerah asalnya dan tidak
diperbolehkan lagi masuk ke daerah Sampit. (Lanjutan)
Link untuk Para Pendidik dan Pemerhati Pendidikan Toleransi dan Resolusi
Konflik
Latihan simulasi bagi para siswa mengenai dinamika
pencapaian perdamaian. Para siswa melalui latihan ini bisa memperoleh
penjelasan dan pengalaman lebih mendalam dalam menghadapi situasi konflik
dan diharapkan mampu mengemukakan pertanyaan dan masalah yang timbul.
Simulasi ini juga memungkinkan peserta didik mampu mempraktekkan kemampuan
managemen konflik dan menguji kemampuan mereka dalam memilih suatu keputusan
berdasarkan alternatif yang mereka cari sendiri. Penjelasan lengkap bisa
dilihat di situs berikut:
Database
Organisasi-organisasi yang relevan di Bidang Resolusi Konflik
Pada edisi ini, kami suguhkan daftar organisasi-organisasi di Indonesia
yang relevan dengan bidang resolusi konflik. Daftar ini memuat sekitar 380
organisasi di seluruh Indonesia. Database ini akan diperbarui terus, dan
saran serta usul untuk menambahkan organisasi yang belum termasuk dalam
database ini akan sangat kami hargai. (lanjutan)
Oleh Hadi
Soesastro and Landry Haryo Subianto (eds.)
Halaman:
170 Pages Publisher: CSIS, Jakarta, 2002 Bahasa: Inggris
Buku ini merupakan sekumpulan
tulisan tentang Timor Timur hasil kerjasama para sarjana yang berasal dari
Timor Timur, Australia dan Indonesia. Muatan buku antara lain bagaimana
proses transisi politik di Timor Timur pasca jajak pendapat dan terutama
menyelidiki apa saja tantangan yang dihadapi oleh negara baru tersebut dan
bagamana respon mereka untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul.
(Lanjutan)
Nationalism and Ethnic Conflict
in Indonesia
Jacques
Bertrand
Halaman:
304
Penerbit:
Cambridge University Press, Cambridge 2004
Bahasa: Inggris
Buku ini menggambarkan konflik
yang terjadi di Indonesia. Dengan mengambil sudut pandang sejarah, Bertrand
mencoba merunut kembali sejarah kekerasan di Indonesia sejak era muculnya
nasionalisme Indonesia sampai pada keadaan sosial politik paska pemerintahan
Orde Baru.
(Lanjutan)