|
Southeast Asian Studies Program (SEASP),
Ohio University
Pada tahun
2002, Ohio University (OU) menandai 50 tahun dedikasinya pada kajian Asia
Tenggara, serta 33 tahun pengembangan sumberdaya untuk studi ini di bawah
Southeast Asian Studies Program (SEASP). OU menganggap kajian Asia Tenggara
sebagai salah satu perhatiannya yang terpenting, serta telah lama mengalokasikan
banyak sumberdaya untuk mencapai prestasi tinggi dalam hal ini. SEASP kini
memiliki 36 mahasiswa berspesialisasi dalam kajian Asia Tenggara di program
Master in Initernational Affairs (MAIA), serta 41 mahasiswa berspesialiasi Asia
Tenggara di tingkat master maupun Ph.D di program paska sarjana yang lain (23
diantaranya nelakukan riset tentang Indonesia). OU memiliki tujuh professor yang
melakukan riset tentang Indonesia (dan lancar berbahasa Indonesia). Pada Mei
2000, SEASP mendapatkan pendanaan Title VI, sebagai salah satu dari delapan
National Resource Center for Southheast Asian Studies di Amerika Serikat.
Center for Research on Intergroup
Relations and Conflict Resolution (CERIC), Universitas Indonesia.
Universitas Indonesia (UI) diakui sebagai salah satu
institusi pendidikan tinggi tang terbaik di Indonesia. Pada Desembar 1999,
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UI bekerja sama dengan SEASP OU
mendirikan CERIC. Dengan dana dari Asia Foundation, Jakarta, CERIC mulai
membentuk jaringan dengan universitas-universitas daerah. Jarifan itu meliputi
Universitas Andalas (Padang, Sumatera Barat), Universitas Cendrawasih (Jayapura,
Papua Barat), Universitas Hassanuddin (Makasar, Sulawesi Selatan), Universitas
Lambung Mangkurat (Banjarmasin, Kalimantan Selatan), Universitas Lampung,
Universitas Mataram (Lombok, Nusa Tenggara Barat), dan Universitas Sriwijaya (Palembang,
Sumatera Selatan).
Pada November 2000, CERIC menyelanggarakan lokakarya
tentang pengembangan kurikulum pendidikan toleransi pada tingkat universitas.
Sekitar 30 peserta dari universitas daerah di Indonesia hadir, diantaranya dari
daerah konflik sepeti maluku, Kalimantan, Sulawesi, Papua Barat, dan Aceh. SEASP
mensponsori seorang ahli negosiasi konflik dari College of Business OU untuk
hadir dalam lokakarya itu. Sebagai hasil dari lokakarya itu adalah adanya
komitmen universitas-universitas yang hadir untuk menawarkan setidaknya satu
mata kuliah baru tentang hubungan antarkelompok dan resolusi konflik. CERIC juga
menjadi tuan rumah diskusi dua mingguan di kampus UI dengan topik antaranya
pendidikan multikultural, konflik-konflik yang sedang berlangsung, dan peran
militer dalam konflik. Sebagai tambahan, CERIC telah memproduksi beberapa video
pendek—termasuk Indonesiaku Menangis dan Jurnalisme Kemanusiaan—untuk
meningkatkan kepedulian tehadap kekerasan di Indonesia serta diperlukannya
jurnalisme kemanusiaan.
Pada 2001, CERIC menyelanggarakan kompetisi untuk memilih
peserta bagi lokakarya kedua tentang riset. Pengumuman tentang proposal riset
disebarluaskan ke seluruh universitas di Indonesia. Dosen dari Universitas
Indonesia kemudian memilih 30 peserta dari universitas di seluruh Indonesia
tersebut. Direktur SEASP OU juga bertindak sebagai salah satu instruktur
lokakarya yang diadakan di Jakarta pada Juli 2001 itu.
Pada Mei 2001, CERIC bekerja sama dengan UNHCR, kantor PBB
untuk Coordination of Humanitarian Afairs (OCHA), BAKORNAS, dan KOMNAS HAM, atas
permintaan Brooking Institute serta UNDP menyelenggarakan seminar untuk
membahas lebih dari sejuta orang pengungsi internal (internally displaced
persons, IDP). Seminar ini berlangsung di Jakarta (26-27 Juni 2001), dan
diikuti lebih dari 200 peserta dari seluruh pelosok Indonesia. Hal ini
memperluas jaringan kontak CERIC di wilayah-wilayah konflik di luar Jawa. Baik
Direktur CERIC, Imam Prasodjo, dan Direktur SEASP, Elizabeth Collins,
berpartisipasi dalam seminar itu.
Klik
di sini
untuk menghubungi kami via e-mail.
|